Akhirnya setelah sekian lama, saya menulis juga atas request dari sahabat saya yang beberapa hari lagi akan memulai tahapan hidup baru..
Tulisan tentang pernikahan…benar2 subjek yang cukup berat. Berat karena saya harus membuat tulisan yang realistis tapi cukup bermakna, membumi tapi juga memberi semangat dan keyakinan terutama buat sang calon pengantin.
Apalagi request ini datang dari salah satu penulis terbaik di mata saya (paling tidak seangkatan TI 02 hehe). Karena sifat beliau yang skeptical, saya juga merasa dituntut membuat tulisan yang tidak penuh dengan petuah2 bla..bla..bla…, harus berbau ilmiah, tapi juga nyentrik/orisinil…
Saya akan memulai tulisan ini dengan satu premis: Pernikahan adalah salah satu tahapan kehidupan. Saya rasa premis ini sudah cukup jelas dan tdk terlalu perlu dijabarkan lagi.
Premis kedua adalah: Dalam kehidupan ini selalu ada dua sisi yaitu kejadian2/saat2 yang menyenangkan-membahagiakan dan kejadian2/saat2 yang sulit-berat-menyedihkan. Saya rasa ini bukan hanya premis tapi sudah menjadi aksioma… Paling tidak itu yg saya rasakan.
Premis ketiga adalah, kejadian2/saat2 yang menyenangkan-membahagiakan bisa kita anggap sebagai result; sedangkan kejadian2/saat2 yang sulit-berat-menyedihkan bisa kita anggap sebagai effort.. Nah, premis yang ini perlu pembenaran penjelasan.
Saya menganggap bahwa kejadian2 yang membahagiakan atau gampangnya lagi “kebahagiaan” adalah hasil akhir (result) dari segala yang kita upayakan di dunia. Saya berasumsi bahwa semua orang tentu menginginkan bahkan mengejar kebahagiaan.. Karena itu, saya anggap bahwa kebahagiaan merupakan “goal” atau dalam tataran waktu yang lebih singkat disebut ‘result’.
Sedangkan kejadian2 yang sulit-berat-menyedihkan saya yakini sebagai sesuatu yang harus dilalui untuk memperoleh kebahagiaan sebagai end result yang diharapkan. Sering dibilang, no pain no gain.. Pain di sini bukanlah suatu kondisi yang menunjukkan hasil akhir, melainkan menunjukkan suatu pengorbanan (effort) yang harus dilakukan.
Karena sudah ada pembenaran penjelasan tentang result dan effort di atas, kita bisa beranjak ke satu konsep fisika yaitu efisiensi. Efisiensi adalah total output (result) dibagi dengan total input (effort).. Semakin tinggi efisiensi diyakini semakin baik karena dengan input/effort yang kecil, bisa diperoleh output/result yang besar.
Lalu kaitannya apa dengan pernikahan??!!
Bayangkan seorang manusia yang hidup sendiri. Ketika dia mendapat suatu kesulitan atau kesedihan, dia harus menghadapinya sendirian. Ketika dia dikaruniai kebahagiaan, dia juga menikmatinya sendirian. Kalau kita anggap bahwa hidup ini adil dan seimbang, bisa diandaikan bahwa terjadi kesulitan dan kebahagiaan yang seimbang dalam hidup orang tsb. Misalnya terjadi 10 kesulitan dan 10 kebahagiaan dalam hidupnya, maka efisiensinya adalah 10/10 yaitu 100%.
Sebaliknya dengan pasangan yang menikah, segala kesulitan akan ditanggung berdua. Apabila suami sedang gelisah karena adanya suatu masalah, istri bisa berbagi kegelisahan tersebut dan bisa menghibur dan menenangkan kembali sang suami. Apabila istri sedang sedih, suami bisa mendukung dan menguatkan sang istri. Kesulitan terasa lebih ringan ditanggung berdua.
Ketika salah satu mengalami kebahagiaan, yang satunya juga akan mengalami kebahagiaan yang sama. Apabila suami senang, maka istri ikut senang.. Ketika istri bahagia, sang suami tentunya ikut bahagia.. Kebahagiaan menjadi berlipat ganda karena dirayakan berdua.
Apabila dikuantifikasikan, seandainya dalam perjalanan pernikahan mereka juga terjadi 10 kesulitan dan 10 kebahagiaan, maka efisiensinya adalah 2 x kebahagiaan dibagi dengan 0,5 x kesulitan. Efisiensinya adalah 20/5 yaitu 400%. Efisiensi yang jelas lebih tinggi dibandingkan contoh sebelumnya dan menunjukkan bahwa pernikahan (yang sakinah mawaddah warrohmah tentunya) jauh lebih baik dibandingkan hidup sendiri (at least 4 x lipat berdasarkan hitung2an di atas).
Tulisan ini cuma contoh sederhana mengenai berkah sebuah pernikahan dengan sedikit pembenaran dan logika yang mungkin agak dipaksakan.
Satu pesan buat sahabat saya yang akan segera menempuh tahapan baru dalam hidupnya, percayalah bahwa ke depan pasti akan ada banyak halangan, rintangan, kesulitan dan kesedihan.. Tapi, yakinlah bahwa di balik itu akan ada lebih banyak lagi kebahagiaan yang menanti.
Segala kesulitan dan kebahagiaan insya Allah akan terasa lebih indah apabila dijalani berdua. (boleh dong petuah dikit di ujung hehe.. )
Barokallaahu laka wa barokah alaika.. sekali lagi mhn maaf tidak bisa hadir langsung.
NB: Bukan berarti kalau punya istri 4, efisiensinya jadi 2500%
